Senin, 20 Desember 2010

Telah Berpulang Mufti Besar Yordan

deskripsi gambar
Lembaga fatwa Mesir dan perkumpulan ulama Iraq juga merasa beduka dengan wafatnya ulama ini.Telah berpulang ke rahmat Allah fajar Ahad, 19 Desember 2010, Mufti Besar Yordan, Syeikh Nuh Al Qudhat, setelah sebelumnya dirawat di Al Husain Medical City. Jenazah ulama yang berumur 71 tahun ini dimakamkan di komplek makam Ra’s Munif, propinsi Ajlun setelah Ashar di hari yang sama, demikian lansir Al Urduniyah Li Al Anba’ (19/12).

Sebagaimana disebutkan dalam situs pribadi ulama ini, drnouh.com, beliau dilahirkan di Ain Al Jannah, propinsi Ajlun Yordan tahun 1358 H (1939 M) dari keluarga religious. Ayah beliau sendiri Syaikh Ali Salman juga seorang faqih madzhab As Syafi’i, yang memperolah ijazah dari ulama besar Syam di masa itu, yakni Syeikh Ali Ad Daqar.

Setelah menamatkan sekolah tingkatan dasar dan menengah di Ma’had Al Ghara’, beliau menalanjutkan pendidikan di Universitas Damaskus dengan mengambil jurusan Syari’ah. Kamudian beliau melanjutkan ke pasca sarjana Al Azhar Mesir. Setelah memperoleh gelar master, beliau melanjutkan ke tingkatan doktoral di Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud di Riyadh.

Setelah kembali ke Yordan, beliau menjadi penyuluh dalam lingkungan militer Yordan. Pada tahun 1992 beliau ditunjuk sebagai hakim. Namun, jabatan itu hanya beliau jalani selama satu tahun dan lebih memilih untuk mengajar di halaqah masjid dan dosen di Universitas Yarmuk. Pada tahun 1996 beliau ditunjuk sebagai Dubes Kerajaan Yordan untuk Iran. Pada tahun 2004 dipilih sebagai direktur lembaga fatwa Uni Emirat Arab dan penasehat menteri Perwaqafan dan Urusan Agama. Kemudian baru beliau ditunjuk sebagai Mufti Besar Kerajaan Yordan pada tahun 2007.

Dunia Islam ikut merasa kehilangan dengan wafatnya ulama yang mensyarah kitab Al Minhaj karya An Nawawi ini, hingga Dar Al Ifta Al Mishriyah, lembaga fatwa resmi Mesir dan Hai’ah Ulama Iraq ikut berduka dan berdoa agar amalan-amalan beliau diterima Allah Ta’ala.
http://www.hidayatullah.com/berita/internasional/14734-telah-berpulang-mufti-besar-yordan

Seorang Ulama Xinjiang Meninggal, Ribuan Muslim Berkabung

deskripsi gambar
Lebih dari 5.000 Muslim di ibukota wilayah barat Cina, Xinjiang, turun ke jalan untuk berkabung melepas kematian seorang tokoh agama terkemuka di tengah-tengah kehadiran sejumlah besar kepolisian, ujar seorang pengurus masjid.

Syaikh Mahemuti, imam Masjid Hantenggeli yang juga dikenal sebagai masjid Agung Gerbang Selatan, meninggal dunia pada Kamis (16/12/2010) yang menyebabkan kesedihan mendalam bagi pengikut Muslim di ibukota Urumqi.

"Sekitar 5.000 Muslim pelayat datang ke Masjid pada hari Kamis untuk melepas kepergiannya," ujar pengurus tersebut, yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Gelimu, ujarnya dalam percakapan telepon kemarin, yang dilansir oleh AFP.

Syaikh Mahemuti meninggal dunia karena penyakit jantung.

Masjid terletak di pusat kerusuhan etnis antara minoritas Xinjiang (Muslim) dengan mayoritas dari etnis Han pada Juli 2009 yang mengakibatkan seditnya 200 orang tewas dan 1.700 terluka.

Otoritas kafir Cina menyalahkan pihak "separatis" atas kejadian tersebut, namun tidak memberikan bukti dari setiap kampanyenya. Lebih dari 25 orang dieksekusi atau menerima hukuman mati dengan tuduhan keterlibatan mereka dalam kerusuhan.

Gelimu mengatakan bahwa pawai hari Kamis lalu atas berkabungnya Syaikh Mahmudi berlangsung damai dan terlihat kehadiran polisi dalam jumlah besar terutama ditujukan untuk mengatur lalu lintas pada saat jenazah mullah itu dibawa pergi untuk dimakamkan.

Menurut Pusat Informasi HAM dan demokrasi yang berbasis di Hong Kong, lebih dari 1.000 polisi bersenjata menerapkan darurat militer di pusat Urumqi di sekitar masjid setelah kematian mullah tersebut.

Syaikh Mahemuti (74) adalah seorang pemimpin Muslim terkemuka selama lebih dari 30 tahun dan terkenal di seluruh Xinjiang.


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10356/seorang-ulama-xinjiang-meninggal-ribuan-muslim-berkabung#ixzz18e6WMOel

"Kenapa Tidak Bunuh Saja Semua Penumpang Kapal Mavi Marmara?"

deskripsi gambar


Seorang anggota parlemen Israel (Knesset), Dani Dannon, menyurati Perdana Menteri Turki Recep Erdogan hanya untuk mengatakan, pasukan komando Zionis yang menyerang Freedom Flotilla Mei lalu seharusnya membunuh saja semua penumpang kapal kemanusiaan untuk Gaza, Mavi Marmara.

IMEMC melaporkan Kamis pekan lalu, Dannon menyesalkan pasukan komando Zionis “yang terlalu disiplin sehingga hanya membunuh sembilan orang.” Dalam serangan ba’da Subuh 31 Mei lalu itu, dengan menggunakan 30 speedboats, 4 kapal perang, dua kapal selam dan beberapa helikopter, tentara-tentara Zionis menyerbu enam kapal kemanusiaan termasuk Mavi Marmara yang tergabung dalam Freedom Flotilla menuju Gaza.

Pasukan komando bertopeng hitam itu lalu membajak dan menyeret semuanya ke pelabuhan Ashdod di tanah Palestina yang dijajah Zionis itu. Sembilan orang relawan dari Turki syahid dalam serangan brutal terhadap Mavi Marmara sekitar 50 orang luka parah termasuk dua orang relawan Indonesia – Surya Fachrizal, yang juga wartawan Hidayatullah dan Sahabat Al-Aqsha, dan Okvianto Emil Baharuddin dari KISPA.

Hingga kini masih ada satu orang relawan Turki yang terbaring dalam keadaan koma di Ankara akibat peluru yang bersarang di kepalanya. “Seharusnya Israel tahu sebelumnya bahwa di atas kapal itu ada teroris, sehingga militer mendapatkan perintah untuk membunuh mereka semua, ‘yang mengancam keselamatan’,” tambah Dannon.

Dannon juga ‘menyesali’ karena Zionis tidak melakukan pemeriksaan ‘keamanan’ terhadap semua penumpang kapal Turki Mavi Marmara sebelum kapal itu berlayar. Di samping itu Dannon juga menuduh bahwa para relawan Mavi Marmara membawa senjata dan ia menyesalkan ‘keteledoran’ Zionis yang dikatakannya ‘membiarkan penumpang kapal itu membawa senjata’.

Beberapa waktu belakangan ini diberitakan adanya usaha sejumlah kalangan untuk mendesak pemerintahan Zionis agar memberikan ganti rugi kepada keluarga para korban serangan brutal itu.

Benjamin Netanyahu sudah membantah laporan-laporan yang menyatakan bahwa Zionis berniat membayar kompensasi kepada keluarga para syuhada itu.

Nentanyahu bahkan mengatakan akan meyakinkan Turki untuk mencabut tuntutannya terhadap militer Zionis. Meminta maaf secara resmi atas perbuatan itu, menurut Netanyahu, hanya akan memuluskan jalan Ankara membawa militer Zionis ke depan mahkamah internasional.
http://www.muslimdaily.net/berita/internasional/6879/kenapa-tidak-bunuh-saja-semua-penumpang-kapal-mavi-marmara

Kamis, 02 Desember 2010

Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

deskripsi gambar

Tanggal Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperselisihkan secara tajam. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal (Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185). Semua pendapat ini tidak berdasarkan hadits yang shahih. Adapun hadits Jabir dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menerangkan bahwa tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tanggal 12 Rabiul Awal tidak shahih. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hadits tersebut, “Sanadnya terputus.” (al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185)


Berhubung penentuan hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti al-Ustadz Mahmud Basya al-Falaki, al-Ustadz Muhammad Sulaiman al-Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam ar-Rahiqul Makhtum hlm. 62), dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim, beliau mengatakan,

“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.” (al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan)

Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? (-ed muslim.or.id)

***

Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
Dikutip oleh muslim.or.id dari artikel 8 Faedah Seputar Tarikh Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M

Ketika Televisi Menjadi Orang Tua Ketiga

deskripsi gambar

Ada dua fakta televisi yang tidak diperdebatkan lagi. Pertama, televisi merupakan faktor perusak dan penghancur di sebagian besar program acaranya. Kedua, televisi merupakan faktor pembangun di beberapa program, namun ini sangat minim. Itulah opini para ibu di beberapa negara yang menjawab angket pendukung penulisan buku ini. Saya menemukan 85% para ibu berpendapat bahwa televisi merupakan faktor negatif yang memengaruhi pendidikan anak. Mereka mengatakan bahwa televisi sangat berbahaya, bahayanya melebihi menfaatnya, perusak perilaku anak, dan penyebab munculnya problematika anak. Sementara itu, para ibu yang lainnya berpendapat bahwa televisi merupakan suatu kebutuhan, namun penggunaannya harus dengan beberapa persyaratan tertentu. Disini, kita membahas bahaya televisi karena kita sedang membahas televisi sebagai pengaruh negatif dalam pendidikan anak.

Bahaya Televisi terhadap Anak

Selama menelaah buku-buku yang berbicara seputar pengrah televisi terhadap anak, saya menemukan banyak penelitian yang menjelaskan bahaya televisi yang diklasifikasikan dalam beberapa bagian, diantaranya: bahaya dari sisi keberagaman anak, bahaya dari sisi perilaku anak, bahaya dari sisi kesehatan, dan bahaya dari sisi kemasyarakatan. Berikut ini beberapa bahaya yang paling tampak.

1) Televisi dan Agama
Tidak sedikit program televisi yang menyuguhkan acara anak yang merupakan hasil impor dari negara-negara Barat, yang dapat merusak fitrah keimanan anak kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terlebih lagi, ada program acara anak yang menceritakan adanya tuhan dengan nama tertentu, seperti bernama “Tuhan” Zella (Godzila) sang penyelamat manusia dari kejahatan. Ada cerita tentang peperangan di luar angkasa; menggambarkan adanya musuh manusia di planet lain yang dapat menghancurkan bumi. Acara tersebut menggambarkan alam semesta dan kehidupan seakan-akan sebuah dongeng, jauh dari gambaran islami tentang alam semesta, kehidupan, dan manusia. Kebanyakan program acara tersebut menceritakan tentang alam semesta yang besar tanpa ada kendali dari kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Acara ini justru menceritakan bahwa alam semesta ini dikendalikan oleh dua kekuatan: kekuatan jahat dan kekuatan bagi yang saling berebut kekuasaan, padahal sebenarnya hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang kuasa mengatur dan mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini. Contoh (buruk yang bertentangan dengan prinsip keimanan ini adalah) film yang menggambarkan akal di sentral alam semesta ini dan akal itulah sumber peraturan alam semesta ini[1].
Bila kita perhatikan program acara tersebut, kita dapat menemukan bahwa sebagian besar acara anak itu tidak sesuai dengan ajaran agama kita.

Contohnya, acara anak “Hai Simsim, bukalah!” Acara ini merupakan terjemahan dari film Amerika. Meskipun program acara ini lebih sedikit efek negatifnya bagi anak, tetapi memiliki beberapa unsur negatif. Akibat pengaruh negatif program acara anak ini, salah seorang anak yang menonton acara tersebut bersujud kepada boneka agar mengabulkan semua permintaannya![2]

2) Televisi dan Perilaku Anak
Secara umum, televisi dapat membuat anak –dengan menyempatkan diri untuk menontonnya- berkepribadian negatif, menyebabkan anak menjadi bodoh, kurang peduli, kurang peka, dan dapat menyebabkan anak melakukan tindak anarkis, jauh dari sifat kasih sayang[3].
Anak menjadi korban iklan perdagangan yang acapkali mengandung norma-norma negatif bagi para pemirsanya, seperti sifat tamak, mubadzir, saling membanggakan diri, tidak peduli suka menguasai, bertindak anarkis, dan berusaha untuk menarik perhatian lawan jenis. Banyak iklan yang menayangkan orang telanjang, padahal iklan seperti ini mendapatkan kritik di negara-negara Barat sendiri![4] Terlebih lagi iklan-iklan seperti itu menarik simpati anak untuk membeli produk yang terkadang berbahaya bagi kesehatan anak![5]
Penayangan informasi internasional maupun nasional tentang para artis dan atlet sebagai bintang dan pahlawan, hal ini dapat mendorong anak untuk mengagumi dan mengidolakan mereka dan tidak mengetahui para bintang dan pahlawan sebenarnya, orang-orang yang terkemuka dalam sejarah, ilmu pengetahuan, dan perjuangan, khususnya di negerinya sendiri, juga dalam sejarah Islam.[6]
Para dokter ahli menilai bahwa televisi merupakan sumber bahaya bagi perilaku anak yang memiliki kecenderungan seksual.[7] Televisi juga berperan sebagai pembangkit diri naluri seksual pada anak.[8]
Televisi dapat mencetuskan sifat anarkis (kekerasan) pada jiwa anak atau menambah kenakalan anak. Ada penelitian yang menjelaskan bahwa 70% orang tua mencela tindakan anarkis anak yang disebabkan oleh cerita-cerita dan tayangan kriminal secara brutal di televisi atau disiarkan di radio.[9] Tayangan tentang tindakan kriminal dan brutal tersebut mendorong anak yang tidak memiliki kecenderungan bersikap anarkis untuk mencoba dan menirunya, juga dapat menambah kenakalan pada anak yang memiliki kecenderungan sikap anarkis.[10] Anak yang sering menonton acara televisi yang mengandung unsur tindakan anarkis, kecenderngannya untuk bertingkah nakal menjadi lebih tinggi daripada anak yang tidak menontonnya.[11]

3) Televisi dan Bahaya Kesehatan Anak
Duduk dalam waktu lama di depan televisi dapat menyebabkan bahaya di punggung, sama seperti bahayanya membawa barang berat.
Berlebihan dalam mengisi muatan informasi pada susunan saraf anak dengan kondisi cahaya yang menyilaukan akan menyebabkan anak mengidap penyakit yang dikenal dengan sebutan epilepsi televisi. Penyakit itu akan menjadi bertambah parah bila anak masih sangat kecil![12]
Televisi dapat mempersempit waktu anak untuk bermain, khususnya permainan yang melatih kemampuan daya kreativitas, dan mempersingkat waktu tidur anak.[13] Juga berdampak negatif bagi indera pendengaran dan penglihatan anak.[14]
Menurut kesehatan, anak kecil di bawah usia dua tahun sangat berbahay menonton televisi.

4) Bahaya Televisi terhadap Daya Berpikir Anak

Sebagian besar acara televisi untuk anak-termasuk acara program pendidikan-tidak mampu mengembangkan potensi kecerdasan anak karena mayoritas acara tersebut menyuguhkan jawabab/solusi praktis. Hal ini melemahkan potensi anak untuk berpikir.[15]

5) Televisi dan Keluarga

Televisi dapat menjauhkan hubungan di antara individu keluarga. Sebagian keluarga ada yang tidak berkumpul bersama kecuali ketika menonton sinetron dan film. Kebersamaan seperti ini tidak mengandung unsur interaksi antarindividunya, juga membuat anak tidak leluasa dalam berbuat dan bersikap dengan kedua oran tua tercinta.


Prinsip-prinsip yang Ditawarkan untuk Menjauhkan Anak dari Bahaya Televisi
Jauhkan mengizinkan anak menonton televisi lebih dari satu jam per hari. Adapun anak yan masih menyusui ASI (anak di bawah usia dua tahun), dokter menyarankan agar ketika menyusui, ibu tidak memposisikan anak berhadapan dengan televisi karena pertumbuhan fungsi otak anak masih belum sempurna.[16]
Jadikanlah apa yang ditonton anak sebagai kesempatan bagi orang tua untuk menajarkannya; perbuatan mana yang benar dan yang salah.[17]
Berikanlah kepada anak kegiatan sosial di dalam atau di luar rumah dan berikanlah hiburan pengganti.
Penting sekali bagi orang tua untuk memberikan contoh kepada anak supaya tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan agama.
Janganlah menggunakan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak, atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman. Menurut persaksian para ibu-yang turut menjawab angket yang disebarkan- ada di antara mereka yang menjadika tontonan televisi sebagai cara untuk memberikan ganjaran atau hukuman bagi anak!
Tanamkanlah pada diri anak untuk menghargai waktu melalui ucapan dan praktik agar anak tidak menghabiskan waktu di depan televisi.
Pastikanlah anak meminta izin terlebih dahulu sebelum menghidupkan televisi, tentunya setelah orang tua membatasi program acara televisi apa saja yang boleh ditonton anak dan menentukan waktu untuk menonton; selama tidak lebih dari satu jam. Yang terpenting lagi, biasakanlah anak menonton televisi sambil duduk.
Berikanlah hadiah per minggu bagi anggota keluarga yang paling jarang menonton televisi dalam seminggu.
Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton sejauh enam kaki (l.k. dua meter), layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di bawahnya, dan ruang tempat menonton haru terang untuk menetralisasi cahaya yang memancar dari layar televisi.

Ditulis ulang dari Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim karya Hidayatullah binti Ahmad, penerbit Fikr.

Penyadur: Muhammad Nur Ichwan

Artikel www.muslim.or.id
[1] Al Ijhazu ‘ala at-Tilfaz hlm. 132-133.


[2] Al-Isykaliyah al-Muashirah fi Tarbiyat ath-Thifl al-Muslim, hlm. 25, dengan beberapa penyeusaian.

[3] A-I’lam al-Idzaiy wa at-Tilifizyuniy hlm. 245-246.

[4] Abna-una wa Lughat Kut-Syi wal al Kat-yib hlm. 54-55.

[5] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 77.

[6] Ahammiyah alI’lam fi al-Islam, majalah Nadwa ath-Thalib hlm. 10; ath-Thifl al-Muslim Baina Manafi’ at-Tilifizyun wa Madharrihi hlm.146 dan seterusnya; Nazharah Islamiyah li al-Insani wa al-Mujtama’I Khila al-Qarni Rabi’i ‘Asyara hlm. 33.

[7] At-Tilifizyun Hal Yutiru al-Athfal, intenet, islam online.

[8] Al-Ijhazi alaa at-Tilfaz hlm. 121.

[9] Al-I’lam wa ar-Risalat at-Tarbiyah hlm. 83-84

[10] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 91 dengan penyesuaian.

[11] ath-Thifl al-Muslim Baina Manafi’ at-Tilifizyun wa Madharrihi hlm. 125; Tanmiyah al-Maharati al-Ijabiyah hlm. 63.

[12] Athfaluna wa at- Tilifizyun hlm. 10.

[13] Hal Yashbahu at-Tilfaz Badilan li Hikayah al-Jaddah hlm. 34; At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 104; Dalil al-Walidain ila Tansyiati ath-Thifl hlm. 229.

[14] A-I’lam al-Idzaiy wa at-Tilifizyuniy hlm. 343; al-Abts al-Mubasyir hlm. 65.

[15] At-Tilifizyun Jalisun Sayyi-un li al-Athfal, internet; islam online.

[16] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 195-196

[17] At-Tilifizyunu wa Bina adh-Dhamir, internet, islam online. Ar-Ru’yah al-Islamiyah li ‘Ilam ath-Thifl hlm. 107.





Dakwah di Lereng Merapi

Sejumlah penelitian menunjukkan, praktik mistik masih eksis di lereng Merapi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-297

Oleh: Dr. Adian Husaini*

deskripsi gambar
Prof. Dr. Hamka pernah menulis sebuah artikel menarik berjudul “Islam dan Majapahit”, yang dimuat dalam buku Dari Perbendaharaan Lama (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982). Bagi pengkaji sejarah Islam di Indonesia, artikel Hamka ini teramat sayang untuk dilewatkan. Hamka memulai artikelnya dengan ungkapan pembuka:


“Meskipun telah hidup di zaman baru dan penyelidik sejarah sudah lebih luas dari pada dahulu, masih banyak orang yang mencoba memutar balikkan sejarah. Satu di antara pemutarbalikkan itu ialah dakwah setengah orang yang lebih tebal rasa Hindunya daripada Islamnya, berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam. Padahal bukanlah begitu kejadiannya. Malahan sebaliknya.”


Hamka menjelaskan, bahwa Kerajaan Majapahit pada zaman kebesarannya, terutama semasa dalam kendali Patih Gajah Mada, memang adalah sebuah kerajaan Hindu yang besar di Indonesia, dan pernah mengadakan ekspansi, serangan dan tekanan atas pulau-pulau Indonesia yang lain. Dalam kitab “Negarakertagama” disebutkan daftar negeri taklukkan Majapahit. Berbagai Kerajaan, baik Hindu, Budha, maupun Kerajaan Islam ditaklukkan.

Kerajaan Islam Pasai dan Terengganu pun dihancurkan oleh Majapahit. Pasai tidak pernah bangkit lagi sebagai sebuah kerajaan. Tapi, Pasai kaya dengan para ulama. Di dalam sejarah Melayu, Tun Sri Lanang menulis, bahwa setelah Kerajaan Malaka naik dan maju, senantiasa juga ahli-ahli agama di Malaka menanyakan hukum-hukum Islam yang sulit ke Pasai. Dan jika ada orang-orang besar Pasai datang ziarah ke Malaka, mereka disambut juga oleh Sultan-sultan di Malaka dengan serba kebesaran.

Menurut Hamka, jika Pasai ditaklukkan dengan senjata, maka para ulama Pasai kemudian datang ke Tanah Jawa dengan dakwah, dengan keteguhan cita-cita dan ideologi. Para ulama datang ke Gresik sambil berniaga dan berdakwah. Terdapatlah nama-nama Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ibrahim Asmoro, atau Jumadil Kubro, ayah dari Maulana Ishak yang berputera Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Ngampel (Makhdum Ibrahim).

“Dengan sabar dan mempunyai rancangan yang teratur, guru-guru Islam berdarah Arab-Persia-Aceh, itu menyebarkan agamanya di Jawa Timur, sampai Giri menjadi pusat penyiaran Islam, bukan saja untuk tanah Jawa, bahkan sampai ke Maluku. Sampai akhirnya Sunan Bonang (Raden Rahmat) dapat mengambil Raden Patah, putra Raja Majapahit yang terakhir (Brawijaya) dikawinkan dengan cucunya, dan akhirnya dijadikan Raja Islam yang pertama di Demak,” tulis Hamka.

Tindakan para wali dalam penyebaran Islam di Jawa itu tidak dapat dicela oleh raja-raja Majapahit. Bahkan, kekuasaan dan kewibawaan mereka di tengah masyarakat semakin meluas. Ada wali yang diangkat sebagai adipati Kerajaan Majapahit. Hamka menolak keras pandangan yang menyatakan, bahwa Majapahit runtuh karena diserang Islam. Itu adalah pemutarbalikan sejarah yang sengaja disebarkan oleh orientalis seperti Snouck Hourgronje. Upaya ini dilakukan untuk menjauhkan bangsa Indonesia agar tidak menjadikan Islam sebagai basis semangat kebangsaan. “Maksud ini berhasil,” papar Hamka.

Akibatnya, dalam pentas sejarah nasional Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah, nama Sunan Ampel dan Sunan Giri tenggelam oleh nama Gajah Mada. Nama Raden Patah dan Pati Unus yang mencoba mengusir penjajah Portugis dari Malaka tenggelam oleh nama Raja Airlangga. Upaya sistematis untuk memecah belah bangsa Indonesia yang mayoritasnya Muslim dilakukan dengan berbagai cara oleh penjajah Belanda. Salah satunya dengan menjauhkan Islam dari semangat kebangsaan Indonesia. Seolah-olah Indonesia adalah kelanjutan Kerajaan Majapahit.

Simaklah paparan Hamka selanjutnya berikut ini:


“Marilah kita jadikan saja segala kejadian itu, menjadi kekayaan sejarah kita, dan jangan dicoba memutar balik keadaan, agar kokohkan kesatuan bangsa Indonesia, di bawah lambaian Merah Putih!

Kalau tuan membusungkan dada menyebut Gajah Mada, maka orang di Sriwijaya akan berkata bahwa yang mendirikan Candi Borobudur itu ialah seorang Raja Budha dari Sumatra yang pernah menduduki pulau Jawa.

Kalau tuan membanggakan Majapahit, maka orang Melayu akan membuka Sitambo lamanyab pula, menyatakan bahwa Hang Tuah pernah mengamuk dalam kraton sang Prabu Majapahit dan tidak ada kstaria Jawa yang berani menangkapnya.

Memang, di zaman jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.

Tahukan tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Diponegoro, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan disana beliau berkubur buat selama-lamanya?

Maka dengan memakai paham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana.”



Peringatan Hamka, ulama terkenal, ini kiranya sangat patut dicamkan! Upaya sebagian kalangan, baik LSM dalam dan luar negeri maupun sebagian unsur pemerintah untuk menjauhkan Islam dari masyarakat – dengan cara membangkitkan kembali tradisi-tradisi pra-Islam atau menanamkan paham sekularisme – sejatinya akan membawa Indonesia ke jurang bencana.

Fenomana ini menunjukkan, bahwa tantangan dakwah Islam di Tanah Jawa sejatinya masih belum berubah. Jika Wali Songo dan para pendakwah Islam lainnya di Tanah Jawa telah memulai langkah-langkah yang spektakuler, mengubah agama penduduk mayoritas negeri ini menjadi Muslim, maka kaum Muslim selanjutnya berkewajiban melanjutkannya. Dalam buku terkenalnya, Fiqhud Da’wah, M. Natsir menegaskan, bahwa dakwah adalah kewajiban setiap muslim. “Tidak boleh seorang Muslim dan Muslimah menghindarkan diri dari padanya.”

*****
Semangat dakwah yang membara dari generasi awal Islam dan generasi-generasi sesudahnya itulah yang kemudian – dengan izin Allah – mampu menghantarkan Islam menjadi agama yang dipeluk di berbagai pesolok bumi. Sejumlah catatan menunjukkan, bahwa sejak abad ke-7 Masehi, sejumlah pendakwah Islam sudah mulai menginjakkan kakinya di bumi Nusantara. Dakwah berupa pengislaman suatu masyarakat kadangkala memerlukan proses yang sangat panjang, bisa sampai ratusan tahun, yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jurnal Islamia-Republika edisi 18 November 2010 mengangkat tema tentang dakwah Islam dan tantangan Kristenisasi serta Nativisasi di sekitar Lereng Merapi. Sejumlah artikel yang ditulis para alumni Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam –Universitas Muhammadiyah Surakarta menguraikan sejarah panjang perjalanan dakwah di lereng salah satu gunung berapi teraktif di dunia tersebut.

Menarik misalnya menyimak kisah “Mbah Petruk”, yang namanya sempat popular di Indonesia menyusul bencana Merapi di tahun 2010 ini. Mbah Petruk makin populer setelah seorang warga memotret asap solvatara Gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Karena hidung Petruk mengarah ke Yogya, maka ada paranormal yang menyatakan, bahwa bencana akan mengarah ke Yogya. Selama ini di sebagian kalangan, mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin dan tanda-tanda bencana Merapi.

Hasil penelitian Susiyanto, peneliti INSISTS bidang sejarah Islam dan Jawa, terhadap tradisi lisan di salah satu kawasan lereng Merapi, menunjukkan, bahwa nama asli Mbah Petruk sebenarnya adalah Kyai Handoko Kusumo. Nama ini dikenal sebagai penyebar Islam di kawasan lereng Merapi pada era 1700-an. Kyai Handoko Kusumo adalah seorang keturunan Arab, berhidung mancung. Karena soal hidung mancung itulah, sosoknya dikaitkan dengan tokoh punakawan dalam pewayangan bernama Petruk yang mempunyai ciri khas hidung panjang. Di duga, Mbah Petruk yang ini adalah murid generasi kedua dari Sunan Kalijaga. Pada masa tuanya, Mbah Petruk diperkirakan meninggal di Gunung Bibi dan jasadnya tidak pernah diketahui. Hal inilah yang memunculkan anggapan spekulatif bahwa dirinya telah moksa.

Sejumlah penelitian menunjukkan, sampai tahun 1700-an, penduduk daerah di sekitar Merapi masih menganut Agama Hindu dan berbagai bentuk kepercayaan kuno. Pada era Perang Diponegoro (1825-1830), Kyai Mojo, ulama dan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro telah memobilisasi pasukan yang berasal dari lereng Merapi. Hal ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi di kawasan ini telah berjalan beberapa tahun sebelumnya.

Dakwah di masa itu menghadapi tantangan yang sangat berat. Berbagai ritual kuno yang dijalankan sebagian penduduk sangat jauh dari nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Misalnya, adanya ritual pengorbanan manusia, dengan menyembelih atau melemparkannya ke kawah Merapi, sebagai persembahan kepada “dewa” agar bencana tidak terjadi. Hasil penelitian Muhammad Isa Anshory, alumnus Program Magister Pemikiran Islam UMS tentang ritual-ritual kuno di sekitar Lereng Merapi mencontohkan ritual aliran Bhairawa Tantra.

Aliran ini punya percaya bahwa cara menghentikan godaan hawa nafsu adalah dengan cara memperturutkan hawa nafsu itu sendiri. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. Bhairawa Tantra muncul kurang lebih pada abad ke-6 M di Benggala sebelah Timur. Dari sini, lalu tersebar ke Utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah Timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain di Jawa, sekte ini juga menyebar di Sumatra serta berangsur-angsur bersatu dengan tenung dan kepercayaan pada kanibalisme. Seorang raja terkenal dari kerajaan Melayu kuno, diceritakan menerima pelantikannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, dan menghadap korban manusia yang menebarkan bau busuk. Akan tetapi, semua ini bagi Adityawarman sangat semerbak baunya.

Bentuk ritual Bhairawa Tantra meliputi apa yang dikenal dengan sebutan ma-lima atau pancamakara. Ritual Ma-lima tersebut terdiri dari matsiya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman keras), mudra (ekstase melalui tarian yang terkadang bersifat erotis atau melibatkan makhluk halus hingga “kerasukan”), dan maithuna (seks bebas). Dalam bentuk yang paling esoterik, pemujaan yang bersifat Tantrik memang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. Ada juga ritual seks bebas dan minum minuman keras yang dilakukan ditempat peribadatan berupa lapangan (padang) bernama Lemah Citra atau Setra. Ritual tersebut dilakukan untuk mendapatkan cakti. Oleh karena itu aliran ini juga sering disebut sebagai saktiisme. Pada era selanjutnya dapat dijumpai sisa-sisanya dalam apa yang disebut dengan istilah kasekten.

Praktik mistik yang lain yang masih eksis di lereng Merapi adalah ritual telanjang yang dilakukan di Candi Lumbung pada setiap awal bulan Suro. Ritus ini dilakukan tengah malam selepas pukul 00.00 WIB dengan bertelanjang bulat mengelilingi Candi Lumbung sambil membaca mantra-mantra khusus di bawah panduan seorang pemimpin upacara. (Majalah Liberty, 11-20/1/2008).

Ritual ini juga masih memiliki kemiripan sebagai sisa ritual Bhairawa Tantra. Di daerah sekitar Merapi, bekas-bekas setra (tempat pengorbanan manusia dan area persetubuhan masal dalam ritus Bhairawa) yang lain juga dapat ditemukan. Sampai sekitar tahun 2006, tempat pemujaan berupa Setra masih dapat ditemui di Bon Bimo. Namun di tempat petilasan itu saat ini telah didirikan sebuah masjid oleh masyarakat setempat. Konon, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, saat tempat itu hendak didirikan masjid, batu yang menjadi “altar” penyembelihan gadis perawan di Bon Bimo itu mengeluarkan suara tangisan di malam hari. Banyak penduduk sekitar bisa mendengarnya. Namun masyarakat setempat kini telah memilih Islam dan sebuah masjid berdiri atas kehendak warga desa di tempat itu.

Tradisi ritual semacam ini tentu saja sudah ditinggalkan masyarakat sekitar lereng Merapi. Sebagian besar mereka kini memeluk agama Islam. Bahkan, tradisi-tradisi sesudahnya, seperti penanaman kepala kerbau juga berangsur ditinggalkan. Islam telah mengubah persepsi mereka tentang makna ibadah dan “kurban”. Inilah salah satu bukti bahwa dakwah Islam terus berjalan, perlahan-lahan mengubah tradisi masyarakat sekitar Lereng Merapi.

Tentu saja, dakwah harus tetap wajib dijalankan dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya. Apalagi, kini tantangan dakwah di sekitar lereng Merapi menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu gerakan Kristenisasi dan Nativisasi. Jika kita berkeliling di sejumlah daerah Lereng Merapi, akan dengan mudah mendapati berbagai pusat gerakan Kristenisasi.

Gerakan nativisasi kini dilakukan juga dengan massif melalui berbagai cara. Tradisi-tradisi ritual kuno yang bertentangan dengan ajaran Islam, sengaja dimunculkan kembali bahkan dipromosikan yang kadangkala bermotifkan promosi wisata. Hal-hal yang jelas merupakan perbuatan syirik dikatakan oleh sebagian orang sebagai bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang harus dilestarikan. Jika tradisi menanam atau melarung kepala kerbau dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal, mestinya praktik persembahan manusia ke kawah Merapi atau praktik ritual telanjang juga bisa dimasukkan dalam daftar kearifan lokal.

Tentu kita berharap para ulama, tokoh masyarakat, dan pejabat yang Muslim lebih mengedepankan cara pandang Islami, dalam menentukan mana tradisi yang perlu dilestarikan dan mana yang tidak. Sebab, akhirnya hanya kepada Allah juga kita akan bertanggung jawab atas amal-amal kita. [Depok, 19 November 2010/hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Rabu, 01 Desember 2010

Hadits 6 : Dalil Haram dan Halal Telah Jelas


deskripsi gambar
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

[رواه البخاري ومسلم]



Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.

(Riwayat Bukhori dan Muslim)



Catatan :

· Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari’at. Abu Daud berkata : Islam itu berputar dalam empat hadits, kemudian dia menyebutkan hadits ini salah satunya.



Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1. Termasuk sikap wara’ adalah meninggalkan syubhat .

2. Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.

3. Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.

4. Memberikan perhatian terhadap masalah hati, karena padanya terdapat kebaikan fisik.

5. Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati.

6. Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.

7. Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara ke arah sana.

8. Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk.




Selasa, 30 November 2010

Menjual Kulit Hewan Udhiyah(Kurban) untuk Menutupi Kekurangan Harga Hewan

deskripsi gambar

PERTANYAAN :
Assalamu alaikum wr wb.

Mau tanya Ustadz. Panitia Qurban di tempat kami masih belum sepakat masalah qurban. Uang iuran 7,7 juta, harga lembu 7,8 juta. Harga lembu tersebut terkover oleh kulit lembu hrg sekitar 100 rb. Bolehkah kebijakan panitia semacam ini. Malah ada pula usulan, kulit kambing diserahkan kepada anak yatim.
Syukron atas penjelasannya



JAWABAN :
Memang setiap tahun, pertanyaan seputar kulit hewan kurban senantiasa menggelayut dalam benak masyarakat. Bahkan ada yang memberi istilah secara khusus seperti “The Skin Hunter”. Sebenarnya hukum masalah ini sudah jelas dan terang benderang seperti bulan purnama. Hanya saja, penyakit dalam hati sebagian kecil masyarakat kita senantiasa tergoda karena bisikan setan, melihat kulit hewan kurban yang ternyata bernilai jual tinggi, maka timbul keinginan untuk menjualnya dengan harapan hal itu bisa mengganti biaya operasional kurban yang telah ia tunaikan. Bagaimana sebenarnya ?

Kulit sembelihan qurban tidak boleh dijual menurut pendapat yang paling kuat berdasarkan hadits shohih dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ ».

"barang siapa menjual daging sembelihan kurbannya, maka tidak ada (pahala) kurban baginya" (HR al Hakim)
Pendapat ulama fiqh dalam masalah ini seputar larangan secara mutlak, dan boleh (Abu Hanifah) tetapi dengan syarat hasil penjualannya untuk disedekahkan. Perlu diperhatikan bahwa larangan di atas hanya berlaku bagi pemilik hewan kurban atau mereka yang patungan untuk membelinya. Adapun jika diserahkan dan disedekahkan kepada pihak lain siapapun , misalnya anak yatim, lalu kemudian dia menjualnya, maka hal itu sah-sah saja, asalkan hasil penjualan tetap kembali kepadanya bukan ke pemilik hewan asal.

Jadi, kesimpulannya
1- Kekurangan 100rb di atas tidak bisa diambilkan dari jatah kulit hewan kurban, melainkan ditambah lagi besaran iurannya atau salah satu menambah untuk menutupi kekurangannya. Tentu bukan hal yang memberatkan kalau sudah dikondisikan pemahaman seputar masalah ini.
2-Silahkan kulit kambing diberikan kepada anak yatim atau yang lainnya, apakah akan dimanfaatkan sendiri atau dijual lagi itu adalah hak yang bersangkutan sebagai pemilik baru kulit kambing tersebut.

Akhirnya, selamat berqurban dan mari senantiasa menjaga keikhlasan dan mengagungkan syiar idul adha ini
wallahu a'lam bisshowab

Taqobbalallahu minna wa minkum
http://www.indonesiaoptimis.com/2010/11/menjual-kulit-hewan-kurban-untuk.html

Kamis, 28 Oktober 2010

Tujuh Kiat Tinggalkan Maksiat

deskripsi gambar

Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat“Tiada hari tanpa maksiat”, kata ini mungkin lebih tepat untuk suasana hidup di zaman ini. Di kantor, di kampus, di jalan, bahkan di rumah sendiri, fasilitas maksiat tersedia.

Di kantor, godaan maksiat ada di mana-mana. Teman, orang luar, bahkan diri sendiri. Jika tidak karena iman, bukan mustahil akan mudah bermaksiat di hadapan Allah baik dengan terang-terangan atau tersembunyi. Kesempatan terbuka luas. Jadi kasis kita bisa memanipulasi uang, jadi pemasaran kita bisa memanipulasi dan korupsi waktu.


Televisi kita 24 jam menyediakan tontonan penuh fitnah dan umbar aurat. Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat.

Memang, meninggalkan maksiat adalah pekerjaan yang tidak ringan. Ia lebih berat daripada mengerjakan taat (menjalankan yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya), karena mengerjakan taat disukai oleh setiap orang, tetapi meninggalkan syahwat (maksiat) hanya dapat dilaksanakan oleh para siddiqin (orang-orang yang benar, orang-orang yang terbimbing hatinya).

Terkait dengan hal tersebut Rasulullah Sallallahu aalaihi wa sallam. bersabda: "Orang yang berhijrah dengan sebenarnya ialah orang yang berhijrah dari kejahatan. Dan mujahid yang sebenarnya ialah orang yang memerangi hawa nafsunya."

Apabila seseorang menjalankan sesuatu tindak maksiat, maka sebenarnya ia melakukan maksiat itu dengan menggunakan anggota badannya. Orang yang seperti ini sejatinya telah menyalahgunakan nikmat anggota tubuh yang telah dianugerahkan Allah pada dirinya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan, ia telah berkhianat atas amanah yang telah diberikan kepadanya.

Setiap kita berkuasa penuh atas anggota tubuh kita, pikiran dan jiwa kita. Akan tetapi, terkadang, kita begitu susah menggendalikan apa yang menjadi ‘milik kita’ itu. Tangan, mata, kaki dan anggota tubuh yang lain, kerap bergerak diluar kendali diri, yang tak jarang bertentangan dengan idealisme atau nilai-nilai keyakinan yang kita anut dan kita yakini. Padahal, rekuk relung kalbu kita bersaksi bahwa semua anggota tubuh itu, kelak akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di Padang Mahsyar.

Firman Allah SWT : "Pada hari ini (Kiamat) Kami tutup mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan (di dunia dahulu)." (Yassin: 65).

Bagaimana agar kita selamat dari maksiat?

Di bawah ini beberapa ikhtiar, yang bila dijalankan secara sungguh-sungguh, insya Allah membawa faedah.

1. Menjaga Mata

Peliharalah mata dari menyaksikan pemandangan yang diharamkan oleh Allah SWT seperti melihat perempuan yang bukan mahram. Hindari, atau minimal kurangi-- untuk pelan-pelan tinggalkan sejauh-jauhnya-- melihat gambar-gambar yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Termasuk menjaga mata, janganlah memandang orang lain dengan pandangan yang rendah(sebelah mata/menghina) dan melihat keaiban orang lain.

2. Menjaga Telinga

Menjaga telinga dari mendengar perkataan yang tidak berguna seperti: ungkapan-ungkapan mesum/kotor/jahat. Poin kesatu dan kedua ini menjadi tidak mudah di saat di mana gosip telah menjadi komuditas ekonomi. Gosip telah menjadi kejahatan berjamaah yang dianggap hal yang lumrah dilakukan, dan wajib ditonton dan disimak. Kehadirannya disokong dana yang tidak sedikit, dimanajeri, ada penulis skenarionya, ada kepala produksinya, ada reporternya dan seterusnya.

Rasulullah S.A.W. bersabda : "Sesungguhnya orang yang mendengar (seseorang yang mengumpat orang lain) adalah bersekutu (di dalam dosa)dengan orang yang berkata itu. Dan dia juga dikira salah seorang daripada dua orang yang mengumpat."

Oleh karenanya, menjaga mata-telinga adalah pekerjaan yang memerlukan energi dan kesungguhan yang kuat dan gigih.

3.Menjaga Lidah

Lidah adalah anggota tubuh tanpa tulang yang kerap mengantarkan pada perkara-perkara besar. Kehancuran rumah tangga, pertengkaran sahabat karib, hingga peperangan antar negara, dapat dipicu dari sepotong daging kecil di celah mulut kita ini.

Rasulullah Saw. bersabda : “Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya.” (Riwayat Athabrani dan Al Baihaqi)

Jagalah lidah dari perkara-perkara seperti berbohong, ingkar janji, mengumpat, bertengkar / berdebat / membantah perkataan orang lain, memuji diri sendiri, melaknat(mncela) makhluk Allah, mendoakan celaka bagi orang lain dan bergurau( yang mengandung memperolok atau mengejek) orang lain.

4. Menjaga Perut

Yang hendaknya selalu di ingat: perut kita bukan tong sampah! Input yang masuk ke dalam perut akan berpengaruh langsung/tidak langsung terhadap tingkah laku/sikap/tindakan kita. Karenanya, peliharalah perut dari makanan yang haram atau yang syubahat. Sekalipun halal, hindari memakannya secara berlebihan. Sebab hal itu akan menumpulkan pikiran dan hati nurani. Obesitas (kelebihan berat badan) adalah penyakit modern sebagai akibat lain dari tidak terkontrolnya urusan perut.

5. Menjaga Kemaluan

Kendalikan sekuat daya dorongan melakukan apa-apa yang diharam kan oleh Allah SWT. Firman Allah-Nya:"Dan mereka yang selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau apa-apa yang mereka miliki (daripada hamba jariah) maka mereka tidak tercela." (Al Mukminun: 5-6)

6.Menjaga Dua Tangan

Kendalikan kedua tangan dari melukai seseorang (kecuali dengan cara hak seperti berperang, atau melakukan balasan yang setimpal). Katakan “stop”, pada tangan, ketika akan bertindak sesuatu yang diharamkan, atau menyakiti makhluk Allah, atau menulis sesuatu yang diharamkan atau menyakiti perasaan orang lain.

7.Menjaga Dua Kaki

Memelihara kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan atau berjalan menuju kelompok orang atau penguasa yang zalim tanpa ada alasan darurat karena sikap dan tindakan itu dianggap menghormati kezaliman mereka, sedangkan Allah menyuruh kita berpaling dari orang yang zalim.

Firman Allah SWT. : "Dan jangan kamu cenderung hati kepada orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh oleh api neraka." (Hud: 113)

Pintu-pintu bagi masuknya maksiat terbuka lebar pada ketujuh anggota tubuh di atas. Pun kunci-kuncinya ada dalam genggaman tangan kita untuk membendungnya. Jadi, semua kembali kepada manusianya. Tentu hamba Allah yang cerdik, adalah mereka yang mempergunakan amanah tubuh untuk senantiasa berjalan di atas rel keridhaan-Nya.

Akhirul kalam, ada sebuah hadits Nabi mengatakan, “Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya.” (Riwayat Abu Ya’li). Nah, bagaimana dengan kita?

Kamis, 14 Oktober 2010

Mahmud Salamah, Hafidh Quran Terkecil di Gaza

deskripsi gambar
Mahmud Ahmad Salamah bocah kelas lima SD memulai kehidupannya bersama Al-Quran sejak usia empat tahun. Ia membuka mushaf Al-Quran dengan tepat tanpa bantuan siapapun.

Salamah yang kinii 11 tahun mulai menghafal Al-Quran dengan dorongan orang tuanya. Hanya dua hari setelah ia mulai ikut resmii menghafal Al-Quran di masjid Ar-Rahmah di kampung Al-Amal barat Khan Yunis, Allah memanggil nyawa orang tuanya. Tinggallah si yatim kehilangan orang tuanya dan berhenti menghafal Al-Quran. Namun tak lama, semangat dan cita-citanya menghafal Al-Quran menggelora dengan dorongan salah satu kawannya di kelas tiga saat itu.



Ahad lalu (12/9) Mahmud Salamah adalah di antara para hufadh yang paling menonjol dalam menerima penghargaan dalam acara wisuda 24 ribu penghafal Al-Quran selama tahun ini.

Mahmud kemudian ikut dalam halaqah hifdhul quran di masjid Abu Dzar Al-Ghifari di barat Khan Yunis. Ia menyelesaikan Al-Quran secara penuh selama 9 bulan antara 1 Desember 2007 hingga 31 Agustus 2008 dan masuk dalam daftar ensiklopedi hufadh di Gaza sebagai penghafal terkecil. Ia mendapatkan pernghargaan dari Dinas Wakaf dan Urusan Agama dan PM Palestina Ismail Haniya.

Kedua orang tuanya adalah guru yang mendorongnya menghafal Al-Quran. “Kakek saya mendorong saya menghafal Al-Quran, demikian juga ayah dan ibu saya mendorong hal yang sama.” Tegasnya.

“saya mulai menghafal Al-Quran dengan bertahap. Saya mulai dari surat-surat pendek dan mudah. Saya menemukan beberapa kesulitan ketika surat panjang. Tapi kemudian terbiasa dan menjadi mudah.”

Dunia Lain

Mahmud menceritakan pengalamannya, “saat memegang mushaf saya merasa berada di dunia lain, dunia Islam, dunia agama, kehidupan hakiki. Saya nasihati generasi sekarang agar peduli dengan menghafal Al-Quran karena ia sumber kekuatan dan akan mendatangkan kemenangan pasti.”

Mahmud menjadi terkenal di masjid tempatnya shalat. Ia dipanggil “maulana” dan dicintai oleh semua orang. Mereka mencium keningnya. Meski demikian, Mahmud terlahir dengan jantung berlubang.

[muslimdaily.net/IFP]

Rabu, 01 September 2010

Mengisi detik-detik Terakhir Bulan Ramadhan

deskripsi gambarRamadhan akan segera berlalu. Kurang lebih satu pekan lagi hilal syawal akan muncul dan mengakhiri bulan mulia itu. Seperti biasa, kaum muslimin menyikapi akhir Ramadhan dengan ragam kegiatan yang berbeda-beda. Sebagian menjalankan sunnah I’tikaf untuk mengais keberkahan yang tersisa di bulan ini, khususnya kemuliaan malam lailatul qadar. Sebagian lainnya mulai menyibukkan diri untuk menyambut lebaran yang tengah dinanti. Berbagai adat tradisi yang mengitari seputar idul fitri pun mulai bermunculan di sana-sini.

Setiap muslim di ujung ramadhan mendapati dirinya pada dua dilema yang selalu berulang setiap tahunnya. Kita pasti bersedih karena akan kehilangan momentum pahala dan keberkahan yang berlipat-lipat di bulan ramadhan, namun pada saat yang sama kita juga harus bergembira dengan datangnya hari raya Idul Fitri.
Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda tentang kebahagiaan di hari raya : “ Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan sungguh inilah hari kegembiraan bagi kita “ (HR Bukhori).

Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan seorang muslim di akhir ramadhan, agar bisa tetap optimal dalam menutup ramadhan, sekaligus mempersiapkan kebahagiaan yang syar’I di hari raya nanti ;

Pertama : Berusaha tetap istiqomah dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Rasulullah SAW senantiasa meningkatkan ibadahnya di akhir Ramadhan. Beliau juga menjalankan sunnah I’tikaf – berdiam diri di masjid untuk beribadah – selama sepuluh hari yang terakhir. Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim). Ini adalah sebuah isyarat khusus dari Rasulullah SAW bagi kita tentang bagaimana seharusnya mengakhiri ramadhan. Jauh dengan yang sebagian besar dilakukan oleh kaum muslimin di hari-hari ini, yaitu meninggalkan tarawih dan tilawah untuk ikut berjubel di pusat perbelanjaan dan toko-toko pakaian. Ramadhan belumlah usai, tetapi banyak yang mengakhiri ramadhan sebelum waktunya.

Di akhir Ramadhan ini, hendaknya seorang muslim sejenak melakukan perenungan diri. Bermuhasabah agar hati ini tidak merasa sombong dengan banyak ibadah yang telah dilakukan, tapi justru terus mawas diri dan berharap agar puasa dan amal ibadah lainnya selama Ramadhan ini benar-benar diterima di sisi Allah SWT. Hendaklah kita merenungi sabda Rasulullah SAW : " Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah & al-Hakim)


Kedua : Mengeluarkan zakat fitrah dengan ikhlas dan tepat waktu

Dari Ibnu Abbas ra : Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari kesia-sian dan perbuatan keji, dan juga sebagai makanan bagi kaum miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum sholat (ied) maka itu adalah zakat yang dikabulkan, dan barang siapa yang menunaikannya setelah sholat (ied) maka dia termasuk sedekah biasa.(HR Ibnu Dawud & Ibnu Majah)

Mengeluarkan zakat fitrah di akhir ramadhan hendaklah ditunaikan dengan ihsan. Mereka yang membayar zakat benar-benar harus memahami hikmah yang terkandung dari kewajiban zakat fitrah. Jangan sampai ada yang merasa ini hanyalah sebuah kebiasaan atau tradisi yang selalu berulang menjelang hari raya. Hendaknya kita merasakan dengan hati mendalam bahwa inilah kesempatan emas bagi kita untuk menebus kelalaian-kelalaian kita saat berpuasa di hari-hari sebelumnya, sekaligus sarana berbagi kebahagiaan di hari raya Idul Fitri. Dengan pemahaman yang baik tentang zakat fitrah, maka insya Allah kita akan menjalankan benar-benar dengan keikhlasan, dan juga tepat pada waktunya sesuai yang disyariatkan Islam.

Ketiga : Meningkatkan Syiar Idul Fitri, dan bukan sekedar menjaga tradisi.

Hari raya Idul Fitri adalah salah satu syiar dalam agama Islam. Karenanya, sudah sepatutnya seorang muslim menyambutnya dengan kegembiraan dan mengagungkannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “ dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar (agama) Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati “ (QS Al-Haj 32)

Rasulullah SAW dalam haditsnya banyak menunjukkan esensi hari raya Idul Fitri sebagai sebuah syiar yang harus disemarakkan. Salah satu wanita shahabat, Athiyyah ra berkata : Kami diperintahkan supaya keluar pada hari raya, sehingga kami mengeluarkan gadis-gadis perawan dari pingitannya dan mengeluarkan wanita-wanita haid. Mereka berada di belakang orang banyak, ikut bertakbir dan berdoa bersama yang lainnya karena mengharap berkah dan kesucian hari tersebut (HR Bukhori & Muslim ). Riwayat di atas menunjukkan dengan jelas bagaimana gambaran syiar Idul Fitri yang harus disemarakkan dengan optimal, diikuti dan dirayakan oleh segenap kaum muslimin.

Indonesia kaya akan tradisi menyambut lebaran. Dari mulai tradisi mudik, pakaian baru, hingga aneka hidangan di hari raya akan sangat menyibukkan waktu kita menjelang hari raya.Tentu saja semua itu akan tetap berharga dalam pandangan Islam, jika kita meniatkannya untuk meningkatkan syiar hari raya, bukan sekedar menjaga tradisi apalagi sarana bermewah-mewahan dan unjuk diri. Adalah penting sekali untuk meluruskan niat di saat-saat seperti ini. Akan sangat berbeda antara mereka yang mudik sekedar menjaga tradisi, dengan mereka yang memahami dan menghayati silaturahmi sebagai salah satu amalan terbaik dalam agama ini. Berbeda pula mereka yang membeli pakaian baru agar dipuji-puji, dengan mereka yang meniatkan mengikuti anjuran Rasulullah SAW untuk memakai yang terbaik di hari fitri. Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Hari-hari ini kita akan banyak diuji masalah niat dan keikhlasan.

Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan kekuatan pada kita untuk mampu menutup Ramadhan tahun ini dengan ihsan, serta menyambut dan mengisi Idul Fitri dengan kegembiran yang bernilai di sisi Allah SWT. Sebuah kegembiraan yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW : " Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka " ( HR Bukhori &; Muslim). Wallahu a’lam bisshowab.
http://indonesiaoptimis.com/

Minggu, 15 Agustus 2010

Putra Minang Ciptakan "Facebook" Muslim Pertama di Indonesia

deskripsi gambarSiapa bilang muslim tidak bisa berkarya? Siapa bilang muslim Indonesia bodoh IT? Urungkan sikap pesimisme anda setelah anda membaca berita ini. Dolla Indra, putra minang kelahiran Riau berhasil menciptakan CMnet (cybermoslem.net), sebuah situs jejaring sosial muslim pertama di Indonesia.

Dolla Indra, pembuat situs jejaring itu mengutarakan, awalnya pembuatan CMnet karena iseng akibat kejenuhan terhadap situs jejaring sosial facebook.


CMnet gagasan pemuda yang baru berumur 25 tahun ini mengusung konsep gabungan antara facebook dan twitter. "Pengguna seakan-akan berada di Facebook, tapi dengan tampilan mirip twitter," katanya dari Padang, Sabtu, saat dihubungi Muslimdaily, via yahoo massenger.

Sejak dirilis pada 1 Agustus 2010, CMnet cukup mendapat perhatian luas dikalangan pengguna internet dan pemakai situs petemanan didunia maya. Didominasi tampilan berwarna hijau CMnet merupakan situs pertemanan yang di luncurkan dengan sistem opensource yang telah diedit dengan server berada di Indonesia.

Ia mengatakan, "Pembuatan CMnet selain sarana silaturahmi juga ingin menjadikannya sebagai situs jejaring sosial muslim canggih".

Memasuki hari keduabelas sejak dirilis, CMnet mendapat sambutan antusias dari pengguna internet. Hingga saat ini tercatat sudah ratusan orang menjadi pengguna. Bahkan CMnet menjadi headline di kompasiana sebuah blog yang dikelola Kompas dengan pengunjung perharinya mencapai 19 juta.

Sempat menempuh pendidikan di Jurusan Kimia Universitas Andalas, Dolla belajar IT (informasi teknologi ) secara otodidak sejak SMA. "Tidak ada pendidikan khusus di bidang IT, hanya karena ketertarikan," kata dia.

"Bahkan ia pernah menghabiskan waktu enam jam menggunakan internet saat SMA," kenangnya.

Sejak 2006 suami dari dr. Elsesmita tersebut mendirikan perusahaan Cyber Moslem yang bergerak dibidang IT dan pembuatan web yang bergerak di Sumatera Barat .

Ia berharap kedepan CMnet akan lebih berkembang dan menjadi sarana silaturahmi dan memperdalam wawasan keislaman, "Tentunya setelah ada sponsor yang bersedia mendanai," lanjutnya.

Bagi ikhwan-akhwat muslim khususnya Indonesia, bergabunglah dengan CMnet yang bisa diakses dengan alamat www.cybermoslem.net !!!
www.muslimdaily.net

Selasa, 10 Agustus 2010

Menyambut Bulan Ramadhan

deskripsi gambarRamadhan yang dirindukan telah menjelang. Setiap kita mempunyai beragam cara untuk menyambutnya. Musim kebaikan tahunan ini memang tak layak untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan Rasulullah SAW sejak awal mengadakan briefing penyambutan Ramadhan di tengah-tengah para sahabat. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Sungguh telah datang padamu sebuah bulan yang penuh berkah dimana diwajibkan atasmu puasa di dalamnya, (bulan) dibukanya pintu-pintu surga, dan ditutupnya pintu-pintu neraka jahannam, dan dibelenggunya syaitan-syaitan, Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan dari kebaikannya, maka telah diharamkan (seluruhnya) "(HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi)


Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang pernah kita punya untuk mendulang pahala. Ini mirip bulan promosi dan besar-besaran yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Kebaikan nilai pahalanya menjadi berlipat-lipat, semua orang berburu memborongnya. Saya sering mengibaratkan Romadhon itu : Bagaikan kita mendapat 'hadiah' di sebuah pusat perbelanjaan. Kita diberi kesempatan untuk mengambil semua barang belanja di dalamnya, namun hanya dalam waktu beberapa saat saja ! Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur'an : " (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu" ( QS Al-Baqarah 184)

Semua kita, jika diberi kesempatan 'gratisan' semacam itu, pasti segera meloncat lalu berlari menuju rak-rak belanjaan untuk segera mengambil barang-barang, dari yang termahal hingga termurah. Nyaris tanpa henti hingga waktunya selesai. Lelah berkeringat bukan masalah. Apa yang dalam pikiran kita adalah ini kesempatan berharga.. Sekali lengah atau berhenti bisa berarti kerugian yang tak terbayangkan. Apa makna dari gambaran di atas ? Satu arti yang harus kita pahami dan kita catat dengan baik adalah ; bahwa Ramadhan memang benar-benar berbeda. Perlu interaksi, konsentrasi dan energi yang berbeda pula dalam menyikapinya. Jangan sekali-sekali menyamakan Ramadhan dengan sebelas bulan yang lainnya. Berbeda dan sungguh berbeda, bahkan mulai dari cara kita menyambutnya. Yang menyamakan siap-siap saja gulung tikar di hari-hari pertama.

Salah satu cara kita menyambutnya adalah dengan memahami Hikmah Ramadhan. Kita bisa sesibuk apapun dalam bulan Ramadhan, tapi tanpa menyelami hikmahnya, barangkali yang tersisa saat Syawal menjelang hanyalah kelelahan fisik yang tak terkira. Saat musim mudik usai, mungkin hanya suara parau sisa kebut-kebutan tilawah yang bersisa. Namun sebaliknya, dengan mengetahui sejuta hikmah dalam Ramadhan, maka kita akan menikmati amal-amal ibadah dalam Ramadhan dengan penuh penghayatan dan kekhusyukan. Kita menjalani paket ibadah Ramadhan lengkap dengan lebih ringan karena memahami manfaatnya buat kita. Dan lebih hebat lagi, setelah Ramadhan usai pun kita masih bisa merasakan hikmahnya dalam menjalani hari-hari selanjutnya.

Mari sejenak mengambil ibarat : seorang yang minum obat-obatan dan seorang yang minum madu atau multivitamin. Yang minum obat-obatan, biasanya sekedar ‘menggugurkan’ kewajiban agar terbebas dari rasa sakitnya. Ia sendiri tak pernah paham khasiat apa yang terkandung dalam obat tersebut. Yang jelas dokter mewajibkannya meminum obat tersebut secara rutin tiga kali sehari. Maka ia meminumnya dengan setengah hati dan terbebani. Lain lagi dengan seorang yang minum madu atau multivitamin yang sejenis. Ia tahu persis khasiat yang terkandung di dalamnya, sebagaimana ia juga meyakini manfaat besar yang akan ia dapatkan ketika meminumnya. Maka ia meminumnya dengan begitu ringan dan bersemangat. Contoh kedua inilah yang ingin kita praktekkan dalam hari-hari Ramadhan kita. Kita memahami hikmah dan ‘khasiat’ ramadhan bagi diri kita, lalu menikmati dan menjalani semua amal dan aktifitas di dalamnya dengan penuh semangat, gairah dan vitalitas !! ( ups .. mirip iklan jadinya).

Saya meyakini ada sejuta hikmah dalam Ramadhan yang mulia ini. Mari kita intip tiga di antaranya sebagai penyemangat awal sekaligus oleh-oleh Ramadhan saat telah usai nanti :

Pertama : Ramadhan sebagai Training Keikhlasan
Puasa adalah ibadah yang melatih keikhlasan. Maka puasa Ramadhan selama sebulan adalah training keikhlasan yang sangat efektif. Sejak awal Rasulullah SAW menjelaskan betapa ibadah puasa benar-benar jalur langsung antara seorang dengan Tuhannya. Puasa menjadi ibadah yang begitu mulia karena langsung dinilai oleh Allah sang Maha Mulia. Beliau meriwayatkan firman Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi : “ Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya “ ( HR Ahmad dan Muslim).

Ibadah Puasa melatih kita untuk ikhlas dalam arti yang paling sederhana, yaitu : beramal hanya karena Allah SWT, mengharap pahala dan keridhoan-Nya. Betapa tidak ? Hampir semua ibadah bisa dideteksi dengan mudah oleh semua manusia, kecuali puasa. Orang menjalankan sholat dan zakat bisa dengan mudah terlihat dengan mata telanjang. Apalagi ibadah haji, rasa-rasanya satu kampung pun bisa mengetahui kalau salah satu kita menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan puasa, yang hampir-hampir tidak bisa diketahui oleh orang lain karena kita ‘sekedar’ menahan tidak makan minum dan berhubungan badan.

Artinya, dalam puasa kita dipaksa untuk ‘ikhlas’ menjalani itu semua hanya karena Allah SWT. Sekiranya bukan karena ikhlas, akan sangat mudah bagi seseorang untuk mengelabui keluarga atau teman-temannya. Ia bisa ikut sahur dan juga berbuka bersama keluarga, tapi di siang hari mungkin saja menyantap lahan makanan di warung langganannya. Kita semua juga bisa berakting puasa dengan mudah, tapi lihatlah : tidak pernah terbersit dalam hati kita untuk menjalani puasa dengan modus semacam itu. Subhanallah, inilah training keikhlasan terbaik yang pernah kita dapati. Sebulan penuh merasa di awasi dan beramal hanya karena Allah SWT. Mari kita sedikit berangan, seandainya kaum muslimin di Indonesia bisa mengambil sedikit saja oleh-oleh keikhlasan samacam ini untuk bulan-bulan selanjutnya, bisa kita bayangkan angka kejahatan, korupsi dan sebagainya insya Allah akan menurun drastis. Karena mereka semua merasa di awasi oleh Allah SWT, lalu menjalankan ketaatan dengan ikhlas sebagaimana meninggalkan kemaksiatan juga dengan ikhlas.

Kedua : Ramadhan untuk Training Keistiqomahan
Momentum Ramadhan yang penuh dengan berbagai amalan –dari pagi hingga malam hari- mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat seorang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari selanjutnya. Kita semua benar-benar menjadi orang yang sibuk dalam bulan Ramadhan. Bangun di awal hari untuk sholat malam dan sahur, kemudian siang hari yang dihiasi tilawah dan dakwah, belum lagi malam hari yang bercahayakan tarawih dan tadaruh. Semua kita lakukan dalam tempo sebulan penuh terus menerus. Sebuah kebiasaan tahunan yang nyaris tidak kita percaya bahwa kita bisa menjalaninya. Semangat beribadah kita benar-benar dipacu saat memulai Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan panduan agar melipatgandakan semangat saat akan melepas bulan mulia tersebut. Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)

Bila training keistiqomahan ini kita resapi dengan baik, maka kita akan terbiasa beramal secara terus menerus dan berkelanjutan dalam bulan yang lain. Segala halangan dan rintangan akan teratasi dengan sempurna karena semangat istiqomah yang telah tertempa dalam dada kita. Pada bulan berikutnya, saat lelah melanda, ada baiknya kita mengingat kembali semangat kita yang menyala-nyala dalam bulan Ramadhan. Untuk kemudian bangkit dan melanjutkan amal dengan penuh semangat !

Ketiga : Ramadhan sebagai Training Ihsan
Syariat kita mengajarkan untuk optimal atau ihsan dalam setiap ibadah. Tak terkecuali dengan ibadah puasa Ramadhan. Setiap kita diminta untuk meniti hari-hari puasa dengan penuh ketelitian. Menjaganya dari segala onak yang justru akan memporakporandakan pahala puasa kita. Rasulullah SAW telah mengingatkan : " Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah)
Ini artinya, hari-hari puasa kita haruslah penuh kehati-hatian. Menjaga lisan, pandangan dan anggota badan lainnya dari kemaksiatan. Sungguh berat, tapi tiga puluh hari latihan seharusnya akan membuat kita melangkah lebih ringan dalam hal ihsan pada bulan-bulan selanjutnya. Bahkan semestinya, perilaku ihsan ini memang menjadi branding kaum muslimin dalam setiap amalnya.

Terakhir, banyak hikmah lain yang terserak sedemikian rupa dalam titian tiga puluh hari yang mulia ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengais hikmah-hikmah tersebut dari hari ke hari Ramadhan kita, untuk kemudian menjadikannya sebagai simpanan dalam menyambut bulan-bulan berikutnya. Mari memulai dari keinginan tulus dalam hati untuk mensukseskan Ramadhan tahun ini. Lalu diikuti dengan kesungguhan dalam mengisinya bahkan hingga saat hilal Syawal menjelang. Agar kegembiraan yang dijanjikan bisa kita dapatkan. Rasulullah SAW bersabda : " Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan juga saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka " ( Hadits Bukhori & Muslim ). Wallahu a’lam bisshowab.
http://www.indonesiaoptimis.com/2010/08/menyelami-hikmah-ramadhan.html

Selasa, 27 Juli 2010

Syahru Ramadhan

deskripsi gambarTidak lama lagi, akan datang tamu agung ke tengah-tengah kehidupan kita, yakni bulan Ramadhan, bulan yang penting bagi ummat Islam. Bulan itu merupakan ajang kita untuk bertadharru’, meratap kepada Allah agar segala kesusahan, kedlaliman dan diskriminasi dijauhkan dari kita. Dan semoga umat ini juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan. Semoga Allah menggandeng tangan umat ini kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tinggal beberapa hari lagi, kita kedatangan bulan Romadhan. Sudah sewajarnya kita menyambutnya dengan suka cita.


Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat muslim. Pertama karena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Selain itu di dalam bulan yang Ramadhan ini Allah menjauhkan semua penyebab kehancuran dan kemaksiatan, syaitan diikat, hingga tidak kuasa untuk membujuk manusia melakukan kemaksiatan yang keji dan terlarang, karena manusia sibuk melakukan ibadah, mengekang hawa nafsu mereka dengan beribadah, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Ini sekaligus penggugah hamba beriman bahwa tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan ibadah dan taat kepada Allah ataupun melakukan maksiat karena sumber utama penyebab kemaksiatan, yaitu syetan telah dibelenggu.

Maka sangat beruntunglah bagi mereka yang mau memanfaatkan kesempatan tersebut, dan mudah-mudahan menjadi salah satu dari mereka yang dimuliakan dan diselamatkan dari api neraka di bulan suci tersebut. Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka karena beberapa amal : ada yang karena mentauhidkan Allah, ada yang karena sholat dan zakat, dan pembebasan pada bulan Ramadhan adalah karena puasa dan barakah yang terkandung di dalamnya, dengan banyaknya dzikir dan taubat yang di lakukan dalam bulan suci itu. Nabi Muhammad s.a.w. telah menceritakan dari tuhannya (Allah).;

“Barang siapa berpuasa di bulan suci itu dengan beriman dan mengharap pahala dari sisi Allah maka diampuni segala dosa yang telah ia lakukan di masa lalu”

Dan dalam riwayat yang lain dikatakan,

“Barang siapa menghidupkan malam lailatul qadar dengan beriman dan bertulus hati maka diampunilah dosa yang telah ia lakukan”.

Nah, agar ramadhan yang akan datang kita bisa menjalaninya dengan sukses, maka perlu ada persiapan-persiapan yang baik. Sekarang apa saja yang perlu kita siapkan untuk menjamu tamu kita? Di sini akan diutarakan beberapa hal yang harus kita siapkan dalam menghadapi tamu idaman kita itu, bukan bermaksud untuk menggurui pembaca, tapi mungkin ada terselip sedikit manfaat yang dapat kita ambil dari apa yang ada.

Di antara persiapan tersebut adalah:

a. Persiapan Mental

Islam selalu mengajarkan kita dalam melaksanakan amal shaleh harus diawali dengan niat yang tulus. Bahkan dalam beberapa amal shaleh, niat itu merupakan syarat atau rukun dari amal yang akan dilaksanakan. Secara psikologis niat sangat membantu amal yang akan dilakukan dan memberikan dampak yang sangat positif. Niat akan memunculkan sebuah semangat dan ketahanan seorang muslim dalam melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah niat menjadi pilar utama dalam beribadah. Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi oleh ibadah yang akan dilakukan orang-orang beriman selama sebulan. Oleh karenanya, diperlukan kesiapan mental dalam menyongsong pelbagai macam bentuk ibadah tersebut, khususnya puasa, bangun malam, tarawih dan lain-lain. Tanpa persiapan mental yang prima, maka orang-orang beriman akan cepat loyo dalam beribadah atau bahkan meninggalkan sebagian ibadah sama sekali. Kesiapan mental sangat dibutuhkan pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dan sebagainya, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusyukan ibadah Ramadhan. Padahal, kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan ‘i`tikâf dan taqarrub serta ibadah lainnya, maka insya Allah, dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

b. Persiapan spiritual

Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, puasa sunnah, dzikir, do’a dan lain-lain. Dalam hal ini Rasulullah saw. mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya`ban, sebagaimana yang diriwayatkan `A’isyah ra.:

“Saya tidak melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya`ban.” (HR Muslim).

Bulan Sya`ban adalah bulan di mana amal shaleh diangkat ke langit. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

“Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya`ban”. Rasul saw. bersabda: “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam keadaan berpuasa.” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaymah).

Sebenarnya inilah hal-hal yang selama ini sering kita lupakan. entah itu karena kita tidak tahu, karena lalai, dan bahkan kita tahu, tapi berpura-pura tidak tahu.

c. Persiapan Fisik dan Materi

Fisik dan materi sangat menopang ibadah di bulan Ramadhan yang dilakukan seorang Muslim. Seorang Muslim tidak akan maksimal dalam berpuasa jika fisiknya lemah. Oleh sebab itu kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan diri sendiri, rumah, dan bahkan lingkungan kita. Rasulullah saw. justru mencontohkan kepada umatnya agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan dalam berpuasa jika fisiknya lemah. Oleh sebab itu kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan diri sendiri, rumah, dan bahkan lingkungan kita. Rasulullah saw. justru mencontohkan kepada umatnya agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan.

Menjaga kesehatan adalah bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu berulang kali Rasulullah saw. mengingatkan umatnya agar meminta kesehatan kepada Allah dan menjaganya supaya tidak merugi, karena kesehatan adalah salah satu modal terpenting kita untuk bisa beribadah.

Orang yang merugi adalah yang tidak menggunakan kesehatannya untuk kebaikan dan yang lebih rugi lagi tidak menjaga kesehatannya. Rasullah saw. bersabda dalam hadist sahih riwayat Tirmidzi

“Dua nikmat Allah yang di situ banyak orang merugi, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang”

Ya karena banyak orang menyia-nyiakan kesehatan dan waktu luangnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

d. Persiapan Ilmu.

Yang satu ini jangan dianggap remah. Jangan mentang-mentang sudah setiap tahun melakukan puasa, lalu menganggap semua persoalan puasa sudah diketahui. Ingatlah bahwa salah satu syarat diterimanya amal adalah mutaba’ah. Yakni mengikuti sunnah dan tuntunan Rasulullah saw. Ibadah yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah tidak ada nilainya, sebagaimana sabda Rasulullah saw;

Barangsiapa mengamalkan suatu amal perbuatan, yang bukan merupakan perintah kami, maka ia tertolak (HR Muslim)

nah, agar ibadah bisa sesuai dengan sunnah Rasulullah itulah, kita dituntut untuk senantiasa mempelajari amal kita. berkaitan dengan amaliyah bulan ramadlan ini, maka kita pun harus persiapkan ilmu yang berkaitan dengan persoalan Ramadlan. Agar kita bisa menjalani kewajiban agung di bulan yang penuh dengan berkah ini dengan optimal. dan pahala kita diterima oleh Allah swt.
www.muslimdaily.net

Selasa, 20 Juli 2010

“Gaza Kecil” Pun Hadir di Mavi Marmara

deskripsi gambarBelum lagi relawan sampai ke Gaza, ‘Gaza Kecil’ telah hadir di Kafilah Freedom Flotilla
Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqshamilik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina. Akulah yangbutuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Sungguh mudahmenjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Demikian renungan ruhani Santi Soekanto, salah satu dari 12 orang relawan Indonesia yang ada di kapal Mavi Marmara untuk misi Freedom Flotilla. Di atas kapal itu ia bersama suaminya, Dzikrullah W. Pramudya, wartawan Hidayatullah Media Group yang juga pernah memimpin majalah Suara Hidayatullah. Seorang lainnya dari Hidayatullah Media Group adalah Surya Fachrizal.

Santi menuliskan renungannya ini saat kapal Mavi Marmara sedang berhenti bergerak di Laut Mediterania untuk menanti datangnya satu lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Sementara pada saat itu berbagai ancaman Israel terus disebarkan untuk menghadang kafilah Freedom Flotilla.

Kapal Mavi Marmara berikut Kafilah Freedom Flotilla berangkat dari Pelabuhan Antalya, Turki, pada Kamis 27 Mei. Tujuan perjalanan ini untuk menembus pengepungan Israel demi mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, kawasan Palestina, yang sudah hampir 4 tahun terakhir ini diembargo secara militer, politik, dan ekonomi oleh Israel, Amerika Serikat, Mesir, dan lain-lain. Dalam kafilah ini terdapat 600 orang aktivis kemanusiaan dari lebih 50 negara.

Kafilah terdiri dari 9 kapal yang digerakkan oleh 6 organisasi non-pemerintah dari Turki, Inggris, Swedia, Yunani, Aljazair, dan Malaysia, di bawah kordinasi IHH (Insani Yardim Fakvi, organisasi kemanusiaan terbesar di Turki). “Dengan membersihkan hati dan meluruskan niat, hanya untuk mencari ridha Allah, Bismillahirrahmaanirrahiim… kami berdua belas mewakili 220 juta rakyat Indonesia, ikut dalam kafilah ini membantu saudara-saudara kita di Gaza yang sedang dizalimi sekaligus menyatakan 'tidak' kepada kebiadaban penjajahan Israel selama 63 tahun terakhir ini,” kata Ust. Ferry Nur, Ketua delegasi Indonesia yang juga Ketua Umum KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), menjelang keberangkatan.

Fahmi Bulent Yildirim, Presiden IHH, menyatakan, kafilah Freedom Flotilla, akan berlayar dari perairan internasional langsung ke perairan Gaza yang jauhnya lebih 80 mil dari perairan yang dikuasai Israel. “Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi Israel untuk menghalangi masuknya kapal-kapal ini ke Gaza,” tegas Bulent.

Namun apa yang terjadi? Sesaat setelah kafilah Freedom Flotilla bergerak kembali menuju Gaza, Zionis Israel yang dikenal dengan perilaku barbarnya menyerang pada Senin pagi 31 Mei seusai salat Subuh. Penyerangan dilakukan saat kapal Mavi Marmara berada di perairan internasional. Kantor berita BBC mengatakan, Israel melakukan serangan dan penangkapan terhadap kafilah di perairan internasional, yang jaraknya lebih dari 150 km (90 mil) di lepas pantai Gaza.

Akibat serangan mematikan Angkatan Laut Zionis Israel tersebut, 9 orang syuhadah dan 40 orang lainnya luka-luka akibat tertembak. Dua di antara korban tembakan tentara Israel adalah Oktavianto Emil Baharudin dari KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) dan Surya Fachrizal, wartawan Hidayatullah Media Group.

Menggambarkan saat penyerangan dan sesudahnya Dzikrullah W. Pramudya, wartawan Hidayatullah Media Group dan pendiri Sahabat Al-Aqsha.com mengatakan, "Saya bersama 11 orang saudara Indonesia lain ditaqdirkan Allah berada di kapal Mavi Marmara, kapal utama kafilah kemanusiaan Armada Kebebasan (Freedom Flotilla). Kapal itu menuju Gaza, tapi sebagaimana Anda ketahui, kapal itu diserbu dan dibajak oleh tentara komando Israel. Sembilan orang relawan syahid. Dari sekitar 40 orang yang luka-luka, ada 2 orang dari Indonesia. Yang satu Oktavianto dari KISPA, tangan kanannya patah kena peluru sampai tulangnya terlihat. Yang satu lagi Surya, wartawan Majalah Suara Hidayatullah, peluru menghantam dada kanannya terus bersarang di perut kanan dan sekarang sudah dikeluarkan. Lalu kami ditangkap dan sempat dipenjara. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah…

Ketika sekitar 600 orang relawan kemanusiaan di kapal itu diborgol, ditodong senjata, dibentak, dipukul, ditendang, dan dijemur di terik matahari Laut Tengah oleh tentara komando Israel bersenjata lengkap dan bertutup muka…



Kekejian di “Gaza Kecil”

Setelah serangan barbar pasukan Zionis Israel itu, enam dari delapan kapal Freedom Flotilla, termasuk Mavi Marmara, berlabuh di Pelabuhan Ashdod yang dikuasai Israel. Status kapal-kapal tersebut seluruhnya berada dalam kontrol tentara Israel. Pemerintah Israel menahan dan memenjarakan para aktivis yang ikut dalam rombongan misi kemanusiaan tersebut jika mereka tidak mau dideportasi ke negara asalnya. Sedikitnya 600 orang aktivis yang berada di atas kapal ditahan Israel.

Yang menarik, aparat Israel membuat tipu daya kepada aktivis yang ditahan saat mereka diinterogasi. Mereka disebutkan memasuki Israel secara ilegal. Pengalaman Edward Peck dari AS contohnya. Mantan Dubes AS untuk Mauritania, Edward Peck, yang ikut dalam rombongan kapal Mavi Marmara, mengungkapkan pengalamannya saat diinterogasi.

"Israel secara illegal menguasai Gaza, seperti yang dipahami oleh dunia. Malah Israel mengatakan, 'Anda tidak bisa masuk ke wilayah ini karena kami sedang mempertahankan diri.' Ketika kami ditangkap dan diarahkan ke Ashdod, salah seorang pejabat Israel bertanya kepada saya bahwa saya akan dideportasi. Saya jawab, Ok. Lalu dia berkata, 'Anda telah melanggar hukum Israel.' Lalu saya jawab, 'maaf, saya diarahkan ke sini, hukum Israel apa yang saya langgar?'"

"Dan dia menjawab, 'Anda masuk ke wilayah Israel secara illegal. Saya bilang, 'OK, kapal ditangkap secara paksa dan saya dibawa kemari dengan paksa, di bawah tekanan, dan terpaksa masuk ke negara Anda yang bertolak belakang dengan keinginan saya, dan Anda sebut saya masuk secara illegal’ Lalu kita berbicara dengan bahasa dan pijakan yang berbeda. Namun itulah mengapa mereka mendeportasi saya, karena saya dianggap masuk secara illegal (padahal) saya tidak ingin masuk ke sana."

Sementara Santi di hadapan petugas imigrasi dipaksa membubuhkan sidik jarinya pada sebuah mesin dalam suatu interogasi. Namun Santi menolak melakukannya. "Anda telah memasuki negara Israel, sehingga Anda harus melakukannya!" kata petugas imigrasi Israel.

"Aku tidak masuk Israel. Aku tidak datang ke sini dengan pilihan. Prajurit Anda menculik dan membawa aku ke sini dengan paksa, "jawab Santi.

"Apakah Anda menolak untuk melakukan ini?"

"Saya menolak."

"Anda harus melakukannya!" Pria itu sekarang mulai berteriak dengan pembuluh darah di leher menggembung.

Dia kemudian beralih ke orang lain, kemungkinan atasannya, dan berbicara cepat dalam bahasa Ibrani. Orang kedua itu lantas mendekati Santi, masih berdiri di depan sebuah kamera digital yang terpasang pada bagian atas mesin.

"Dengar, ini hanya untuk tujuan ID. Letakkan saja jari Anda di sana." Orang kedua itu mencoba memberi alasan pada Santi.

"Anda mengambil gambar saya, Anda telah mengambil paspor saya, apa lagi yang Anda butuhkan? Bagaimana saya tahu bahwa Anda tidak akan menggunakan sidik jari saya untuk beberapa tujuan lain, mungkin untuk mengikuti gerakan saya," ucap Santi tetap menolak.

"Saya berjanji kepada Anda bahwa kami tidak akan menggunakannya untuk mengikuti aktivitas Anda ..."

Santi tertawa mendengarnya. "Tentara Anda telah membunuh orang , sekarang Anda membuat janji..."

"Saya baru saja bepergian ke beberapa negara seperti Thailand, dan saya juga harus memberikan sidik jari saya ada di sana," kata pria itu lagi, suaranya sekarang meningkat.

"Anda bepergian, aku diculik…" ucap Santi. Lain lagi dengan yang dialami Ken O'Keefe, relawan asal Amerika Serikat keturunan Irlandia. Dia mengalami luka berat justru ketika berada di Israel.

Pada hari Sabtu (5/6), Ken mengatakan, dia diserang secara brutal oleh tentara Israel di bandara sebelum diberangkatkan ke Turki. Akibatnya Ken harus dirawat akibat kekerasan fisik minimal tiga kali lipat lebih berat dibandingkan ketika ia turun dari kapal. Dia dirawat inap di rumah sakit akibat luka-luka pukulan tersebut."Pada insiden penyerangan tentara Israel di kapal Mavri Marmara, saya ditanya, 'apakah saya menggunakan kamera atau mempertahankan kapal?'" kata Ken.

“Saya secara antusias berkomitmen untuk mempertahankan kapal. Meskipun saya termasuk orang yang tidak suka kekerasan, kenyataannya saya percaya cara tanpa kekerasan harus jadi pilihan pertama. Meski demikian, saya bergabung dengan usaha pertahanan Mavri Marmarra karena memahami kekerasan bisa saja dilakukan terhadap kami dan kemungkinan kami juga terpaksa untuk menggunakan kekerasan dalam bela diri. Saya mengatakan hal itu langsung kepara agen Israel, mungkin dari Mossad atau Shin Bet. Dan saya katakan, pada serangan yang dilakukan pagi hari itu, saya secara langsung terlibat dengan usaha pelucutan senjata atas dua pasukan komando Israel.”

“Hal itu harus dilakukan atas pasukan komando yang sudah membunuh dua orang saudara relawan yang saya lihat hari itu. Satu relawan ditembak dengan peluru bersarang di dahinya, tampak jelas sebagai eksekusi. Saya tahu pasukan komando berusaha membunuh ketika saya berhasil merebut pistol ukuran 9 mm dari salah satu anggotanya. Saya memegang senjata itu di tangan saya dan sebagai mantan Angkatan Laut AS dengan pelatihan senjata yang cukup, saya sangat mampu menggunakan senjata tersebut ke arah pasukan komando yang mungkin telah membunuh salah satu relawan.
Namun, saya tidak melakukan itu. Saya mengambil senjata itu, mengeluarkan peluru yang merupakan peluru tajam asli, kemudian memisahkannya dan menyembunyikan senjata itu. Saya melakukan hal itu dengan harapan kami dapat mengatasi serangan tersebut dan mengajukan senjata itu sebagai bukti dari percobaan kriminal pihak Israel untuk suatu pembunuhan massal.”

“Saya juga membantu secara fisik memisahkan satu anggota komando dari serangan senapan, ketika relawan lain dilemparkan ke laut. Kami pun menguasai tiga orang pasukan komando tanpa senjata dan tak berdaya. Mereka hidup karena belas kasihan kami. Mereka sangat jauh dari jangkauan anggota komando lain yang berniat membunuh. Mereka di dalam kapal dan dikelilingi oleh sekitar 100 relawan atau lebih. Saya melihat ke arah mata tiga pria tersebut dan saya yakin mereka memiliki rasa takut terhadap Tuhan di dalam diri mereka. Mereka juga memandang ke arah kami dan berharap kami memahami jika sedang berada di posisi mereka. Saya tidak ragu, mereka tidak percaya akan ada jalan mereka bisa selamat hari itu. Mereka tampak seperti anak kecil yang ketakutan di hadapan ayah yang kejam. Namun, mereka tidak menghadapi musuh yang tak berperasaan hari itu. Bahkan, relawan wanita menyediakan pertolongan pertama dan kemudian mereka dibebaskan dengan memar, tapi hidup. Mereka dapat hidup di hari esok. Dapat merasakan matahari di atas kepala dan memeluk orang tercinta. Tak seperti para relawan yang dibunuh. Meskipun kami berduka atas kehilangan saudara-saudara yang meninggal, merasa marah terhadap para tentara itu, namun kami melepas mereka…”

Sedang bagi Dzikrullah, apa yang dialaminya tertuang dalam suratnya, “Ya Allah… Kami berniat pergi ke Gaza untuk menengok saudara-saudara kami yang sedang diembargo, dikepung, diancam, Alhamdulillah, belum lagi sampai kami di Gaza, sudah Engkau hadirkan “Gaza” ke dalam kapal ini. Rupanya inilah suasana yang setiap hari dirasakan saudara-saudara kami di Gaza, di Masjidil Aqsha, di Palestina…”

“Ya Allah… Kami merasakan penjajahan dan penindasan yang menjijikkan ini beberapa belas jam, paling lama berpuluh jam, tapi saudara-saudara kami merasakannya setiap hari selama embargo 3 tahun ini. Bahkan saudara-saudara kami di seluruh Palestina dan Masjidil Aqsha merasakannya setiap hari selama 63 tahun dijajah Israel…”

Memang Gaza hanya membutuhkan pertolongan Allah, karena Gaza milik Allah, tetapi perjuangan para relawan niscaya tidak akan sia-sia.
www.hidayatullah.com