Selasa, 21 April 2015

Wanita-wanita di Balik Layar Sejarah (1)

JANTUNG Buya Hamka terasa berdebar-debar menanti apa yang akan diucapkan istrinya, Ummi Siti Raham, ketika diminta berpidato. Ummi yang belum pernah naik mimbar menyanggupi permintaan pembawa acara untuk berpidato pada sebuah pengajian di suatu tempat di Makassar tahun 1967. “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” dengan lancar Ummi membuka sambil tetap tersenyum.
“Saya diminta berpidato tapi sebenarnya ibu-ibu dan bapak-bapak sendiri memaklumi bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato, sejak dari memasakan makanan hingga menjaga kesehatannya. Oleh karena itu maafkan saya tidak bisa bicara lebih panjang. Wassalamu’alaikum warrahmatullah,” Ucapnya yang singkat lalu turun dari mimbar.
“Diluar dugaan, hadirin yang ribuan jumlanya bertepuk tangan riuh sekali.” tulis Rusydi yang menceritakan pengalaman ayahnya, Buya Hamka, dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka. Kejadian itu membuat Buya Hamka menitikkan air mata. Para hadirin pun berteriak, “Hidup Ummi, hidup Ummi!”
Apa yang diucapkan Ummi dalam “pidato” saat kejadian itu memang diakuinya sebuah kenyataan. Selama 43 tahun, dengan setia Ummi menemani perjuangan suaminya sebagai seorang penulis, pejuang, politikus hingga ulama. Tidak hanya menemani, pilihan jalan hidup Sang Ulama ini juga pernah diputuskan oleh Ummi.

Keyakinan Kartini dalam Sorotan

Oleh: Artawijaya*
Ketika penulis melansir beberapa tulisan terkait Raden Ajeng Kartini, beberapa pembaca banyak mengajukan pertanyaan, bahkan sanggahan. Kebanyakan dari tanggapan itu menganggap penulis terlalu tendensius dalam memandang sosok Kartini, terlalu terbuai teori konspirasi, dan mempunyai motif tertentu dalam mengeritik sosok pahlawan nasional tersebut. Atas pertanyaan dan sanggahan tersebut, penulis nyatakan bahwa apa yang penulis lakukan adalah upaya untuk menuliskan sejarah secara jujur, sejarah yang berangkat dari fakta-fakta yang ada, bukan sejarah yang ditulis oleh tinta penguasa. Jika pun ada motif tertentu, maka penulis harus akui bahwa motif itu adalah upaya untuk membongkar selubung “de-islamisasi fakta sejarah” yang selama ini terjadi dalam sejarah nasional kita. De-islamisasi yang dimaksud adalah upaya memarjinalkan peran umat Islam dalam sejarah pergerakan nasional di negeri ini.

Penulis hanya memaparkan sisi lain Kartini, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku-buku sejarah (text book) yang diajarkan di sekolah-sekolah kita. Jika sejarah nasional selama ini menulis kiprah Kartini sebagai ikon kemajuan perempuan Indonesia yang tercermin dalam surat-suratnya, maka penulis berusaha menguak sisi lain tentang Kartini secara personal, diantaranya pandangan keagamannya, latarbelakang pemikirannya, dan siapa saja orang yang berinteraksi secara intim dengannya. Setelah itu, silakan pembaca sekalian menimbang dengan jernih tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam penulisan sejarah nasional negeri ini.

BELAJAR DARI SHAFIYYAH BINTI ABDUL MUTHALIB

Shahabiyah adalah sahabat Rasulullah saw dari kalangan Muslimah, mereka adalah wanita – wanita tangguh di medan jihad dan dakwah. Ujian demi ujian, mereka senantiasa menghadapinya dengan penuh kesabaran. Mereka mujahidah sejati sepanjang masa, yang tidak pernah lekang oleh waktu dan zaman. Mereka juga ikut terjun ke medan jihad bersama Rasulullah saw, menyiapkan logistik dan obat – obatan untuk para pasukan Muslimin yang terluka. Subhanallah.

Muslimah seperti halnya para shahabiyah tidak mudah mengeluh, tidak cengeng, mampu menjaga kehormatan diri dan izzah Islam, yang melahirkan generasi mujahid yang senantiasa membela Islam di medan jihad sampai titik darah penghabisan serta senantiasa tegar menghadapi penindasan yang dilancarkan oleh musuh – musuh Islam. Bahkan, tidak jarang menjadi barisan paling belakang saat di medan jihad. Tujuannya untuk menghadang pasukan Muslimin yang lari dari medan jihad.

Jumat, 17 April 2015

Kata Mutiara

Bukan kesulitan yang membuat kita takut melangkah, 
Namun ketakutan itulah yang mempersulit.

Manusia mempunyai 3 macam hari:
Hari kemarin yang berlalu,
Hari esok yang masih ghoib dan
Hari ini yang bisa diisi dengan ketaatan.

Janganlah engkau menampakkan aib saudaraku, karena bisa jadi Allah memaafkannya & Allah justru akan menjerumuskanmu ke dalam aib tersebut.