Jumat, 26 September 2014

Dendam Itu Berubah

Seorang lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.

Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.

Rabu, 10 September 2014

Kisah dari Sebuah Kaos Kaki Bolong

Seorang kaya raya, sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya. Orang kaya itu berwasiat kepada anak-anaknya, “Anak-anakku, jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian. “Tolong pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek. Ayah ingin memakai barang kesayangan semasa ayah bekerja di kantor, dan ayah ingin kenangan kaos kaki itu tetap ada sampai ayah dikubur nanti.

Singkat cerita akhirnya sang ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak-anaknya meminta ke pak modin untuk memakaikan kaos kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya.

Akan tetapi pak modin menolaknya, “Maaf secara syariat hanya dua lembar kain putih saja yang boleh dipakaikan kepada jenazah”.

Terjadi diskusi panas antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin sebagai ustad yang melarangnya. Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris.

Beliau menyampaikan, “Sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka bersama-sama siapa tahu ada petunjuk.”